Cara Menyikapi Suami Puber Lagi

info kesehatan Saat memasuki masa pubertas di usia remaja, seorang pria tengah mendaki puncak energi dan seksual. Sebaliknya, pria yang mulai memasuki masa andropause, energi dan kemampuan seksualnya justru sedang meluncur turun. Tapi, efeknya bisa sama, yaitu ia kembali suka bergenit-genit untuk mencari perhatian wanita. Celakanya, biasanya bukan kepada istri sendiri. Jangan heran pula bila kemudian sering terdengar berita perselingkuhan yang melibatkan pria-pria setengah baya dengan wanita-wanita yang jauh lebih muda. Bahkan, tak jarang mereka juga nekat mengonsumsi berbagai obat kuat untuk membuktikan bahwa mereka masih oke di tempat tidur.

"Sebagian besar pasien saya mengaku tetap mencintai istrinya dan tak mau kehilangan keluarganya. Mereka hanya ingin menyelematkan sisa-sisa harga diri mereka sebagai pria. Mengapa harus membuktikan kepada wanita lain? Karena istri sendiri pasti sudah tahu semua rahasia suami mereka, terutama rahasia di tempat tidur," papar dr. Anita Gunawan MS, Sp. AND, androlog dari RS Pusat Pertamina (RSPP).

Karena itu, ia menyarankan agar di masa-masa kritis ini, para istri mulai 'pasang antena'. "Jangan biarkan suami Anda melewati masa-masa sulit itu sendirian, sehingga akhirnya ia mencari kompensasi di luar rumah. Memang kedengarannya tidak adil, karena sebagai wanita, Anda tentunya juga sedang menghadapi masa perimenopause atau menopause yang tak kalah sulit," dr. Anita menjelaskan.

Para istri diharapkan memahami kondisi psikologis suami mereka yang tengah menghadapi periode andropause, termasuk memahami segala macam gejolak dan kerewelan mereka. "Perbaiki kembali komunikasi suami istri yang selama ini terabaikan akibat kesibukan dan rutinitas sehari-hari. Temani dan dampingi suami Anda, dengarkan keluhan-keluhannya, dan ajaklah bicara dari hati ke hati. Perbanyak pula waktu kebersamaan, misalnya dengan menjalankan hobi berdua. Karena, sesungguhnya, yang paling dibutuhkan para suami adalah perhatian dan empati dari istrinya, sehingga ia merasa lebih nyaman dan safe menghadapi masa-masa krusialnya itu."

Karena itu pula, dr. Anita selalu menyarankan agar para pasien prianya membawa istri mereka pada saat berkonsultasi. "Dengan datang berdua, akan tercipta keterbukaan dan saling pengertian di antara suami. Bahkan, saya juga bisa sekalian menjelaskan kepada sang suami tentang kondisi menopause yang mungkin tengah dialami istrinya, sehingga keduanya bisa saling mendampingi dan menguatkan," tutup dr. Anita.