Gangguan Tidur Pada Wanita

Info Kesehatan Terbatasnya pengetahuan atau masih menganggap tidur sebagai hal yang sepele, membuat banyak orang sulit membedakan apakah kondisi tidur yang dialaminya masih tergolong normal atau tidak. Dalam buku A Woman’s Guide to Sleep Disorders, dijelaskan beberapa gejala yang perlu dikenali wanita bila ia mengalami gangguan tidur:

Rasa mengantuk (sleepiness)

Wajar bila kita kurang tidur sering merasa mengantuk dan mengeluh sangat lelah atau tidak
bertenaga. Rasa mengantuk baru dianggap bermasalah jika frekuensinya terjadi terlalu sering dan muncul tidak pada tempatnya. Misalnya ketika menonton teve, membaca, sedang meeting, atau ketika berbicara dengan orang lain. Pada siang hari, mungkin Anda bisa menahan rasa kantuk karena padatnya kesibukan. Tetapi kantuk bisa menyerang setiap saat dan tak tertahankan, termasuk ketika Anda sedang mengendarai mobil.

Gangguan perilaku tidur

Adanya indikasi gangguan tidur bisa juga dilihat dari munculnya beberapa perilaku “aneh” selama tidur, mulai dari sesuatu yang ringan seperti: sleepwalking, mengigau, sampai yang perlu ditangani khusus seperti hypnagogic hallucination atau halusinasi berbagai bayangan menyeramkan saat tertidur beberapa menit. Perilaku ini dapat mengganggu proses tidur sehingga Anda tidak bisa mencapai tahap REM (Rapid Eye Movement), tahap di mana biasanya seseorang tidur pulas dan bermimpi.

Mendengkur

Banyak orang menganggap mendengkur bukan suatu masalah serius. Padahal keadaan ini merupakan salah satu gangguan tidur yang bisa berakibat fatal, terutama jika sudah mengalami sleep apnea (henti napas saat tidur), karena bisa memicu penyakit jantung dan stroke. Dan kecenderungan wanita menopause untuk mengalami masalah mendengkur ini meningkat 3 kali lipat. Mengingat pada masa tersebut, wanita menjadi cenderung gemuk dan produksi hormon estrogen yang mencegah apnea berkurang.

Gejala-gejala tersebut, bila sering terjadi, akan mengarah pada gangguan tidur. Meskipun kebanyakan orang yang mengalaminya tidak sadar, tetapi ia bisa merasakan efeknya pada saat beraktivitas. Misalnya: sulit berkonsentrasi, sakit kepala, dan menjadi lebih cepat marah. Sehingga biasanya yang lebih bermasalah justru orang-orang di sekitarnya, termasuk pasangan.

Menurut Dr. Meir H. Kryger, salah seorang peneliti dari American Academy of Sleep Medicine dan penulis buku A Woman’s Guide to Sleep Disorders, wanita mengalami kondisi stres yang disebabkan perubahan fisik dan hormonal sepanjang siklus kehidupannya; mulai dari fase menstruasi, kehamilan sampai menopause. Belum lagi ditambah dengan stres dari luar dirinya, seperti tuntutan pekerjaan. Dalam keadaan stres, tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebihan sehingga membuat seseorang terus terjaga dan sulit tidur. Inilah sebabnya insomnia merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan wanita.

Sayangnya, mereka cenderung mengelak bila dianggap mengalami gangguan tidur. ‘Ah, saya gampang tidur kok, dimana saja dan kapan saja bisa tertidur.’ Justru dari jawaban itu sudah menandakan adanya gejala gangguan tidur. ”Bukan saja sulit tidur, tetapi terlalu cepat tidur pun merupakan suatu gangguan yang dinamakan hipersomnia,” demikian jelas dr. Andreas Prasadja, dari Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran,
Jakarta.

Normalnya seseorang membutuhkan waktu untuk tertidur 15-20 menit. Kalau tertidur lebih cepat atau lebih lama dari waktu tersebut, bisa jadi ia mengalami gangguan tidur. Salah satu penyebab hipersomnia adalah ‘hutang tidur’ yang menumpuk. “Jika Anda tidur kurang dari rentang minimum normal, maka kekurangan tersebut kalau tidak dibayar akan menjadi ‘hutang’ dan terus dihitung setiap harinya,” tutup dokter Andreas.