Gejala Gejala Menopause

info kesehatan Bila seorang pria mulai memasuki usia kepala lima dan mulai memperlihatkan sejumlah gejala 'aneh', misalnya jadi sering mengeluh sakit ini-itu, rewel, serta kemampuan seksualnya menurun, orang kerap menyebutnya 'sedang mengalami krisis setengah baya' (midlife crisis). Maklum, di usia sekian, banyak hal mulai berubah -pada seorang pria. Dalam karier, misalnya, meski sudah punya jabatan mapan, tak urung ia mulai merasa terancam dengan pesaing-pesaing muda yang lebih potensial, atau mulai 'ketakutan' menghadapi masa pensiun. Tak heran bila gejala andropause kerap didiagnosis sekadar sebagai 'depresi tengah baya' dan oleh dokter diberi resep obat antidepresan.

Apa sebenarnya andropause itu? Dr. Anita Gunawan MS, Sp. AND, androlog dari RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, mendefinisikan andropause sebagai sebuah kondisi menurunnya kadar hormon testosteron seiring dengan proses penuaan (aging). Karenanya, andropause bisa digolongkan sebagai penyakit degeneratif pria.

Istilah andropause sesungguhnya sudah muncul pada tahun 40-an, tapi masih dianggap sepi. Bahkan, sampai sekarangpun, masih banyak pria yang mengaku belum pernah mendengar istilah tersebut. Baru belakangan ini masyarakat medis mulai menaruh perhatian serius terhadap andropause. Karena, sama seperti wanita yang tak bisa melarikan diri dari menopause, semua pria pun pasti akan mengalami masa andropause.

"Meski waktunya bisa berbeda-beda, pada umumnya proses penurunan kadar testosteron pada pria dimulai pada usia 35 tahun dan terus berlangsung sampai testosteron benar-benar habis di usia sekitar 70-an," papar dr. Anita. Bahkan, menurut Dr. Jed Diamond, psikoterapis dari Amerika Serikat (AS) dan penulis buku Male Menopause, belakangan ini usia andropause pada pria AS semakin dini. Setidaknya, 25 juta pria AS usia 40-55 tahun kini sudah mengalami gejala andropause dalam berbagai kadar.

Gejala-gejala andropause (biasa disebut Testosterone Deficiency Syndrome atau TDS) antara lain sering merasa lemas/kurang tenaga, mudah mengantuk dan tertidur setelah makan malam, massa otot berkurang (meski timbangan bertambah), lingkar perut bertambah lebar, libido dan kemampuan ereksi menurun, tinggi badan berkurang, sulit tidur, serta cepat kesal dan marah.

Sejumlah penyakit degeneratif, seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi juga bisa menimbulkan gejala-gejala serupa. Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa seorang pria mengalami andropause atau bukan, ia harus menjalani tes laboratorium (tes darah) untuk mengecek kadar hormon testosteronnya, serta tes wawancara yang biasa disebut PADAM (Partial Androgen Deficiency Syndrome in Ageing Men).

Terapi sulih testosteron
Bila wanita bisa menjalani terapi sulih hormon estrogen (Estrogen Replacement Therapy atau ERT) untuk meningkatkan kualitas hidup pascamenopause, pria andropause pun bisa menjalani terapi sulih hormon testosteron (Testosterone Replacement Therapy atau TRT), yang kini mudah dilakukan di berbagai klinik dan rumah sakit di Indonesia. Dan, seperti halnya ERT, hingga kini TRT pun masih menuai kontroversi. Sebagian dokter masih melarangnya, karena dianggap bisa memicu stroke dan kanker prostat.

"Tapi, semuanya kembali pada pilihan masing-masing orang. Yang jelas, TRT memang bisa membantu memperbaiki kualitas hidup, tapi jangan berharap keperkasaan pria setengah baya bisa pulih persis seperti di waktu mereka berusaia 30 tahunan, karena itu tidak mungkin," tegas dr. Anita.