Mitos Sering Melahirkan Bisa Menunda Menopause

info kesehatan MITOS: Wanita yang tak pernah hamil dan melahirkan akan lebih cepat memasuki masa menopause. Sebaliknya, semakin sering seorang wanita hamil dan melahirkan, masa menopause pun tertunda.

Alasan: Pada saat hamil selama sembilan bulan lebih, plus 1-2 bulan bulan setelah melahirkan (nifas), wanita tidak mengalami haid. Dengan begitu, ia 'menghemat' cadangan telur yang dimilikinya. Hal inilah yang menunda datangnya masa menopause. Dengan demikian, semakin sering ia hamil dan melahirkan, semakin banyak pula cadangan telurnya yang bisa dihemat, dan semakin lama menopause tertunda.

FAKTA: Jangan termakan mitos ini. Jumlah cadangan telur seorang wanita tidak ditentukan oleh datang atau tidaknya haid. Contohnya, pada saat bayi wanita lahir, maka jumlah cadangan telurnya diperkirakan 2 jutaan. Pada saat dia mengalami haid untuk pertama kali (menarche) pada usia kurang lebih 12-13 tahun, maka diprediksi jumlah cadangan telurnya tinggal 400 ribuan.
   
Semenjak dilahirkan hingga menjelang menarche, jumlah cadangan telurnya telah menurun, meski dia belum haid.  Hal ini disebabkan telur (folikel) di dalam ovarium terus mengalami proses rekrutmen untuk menjalani proses seleksi untuk menjadi sebuah folikel dominan yang akan dilepas setiap bulan oleh ovarium. Sebagian besar folikel yang direkrut itu akan mengalami kematian dan tidak akan  menjadi folikel dominan. Hal inilah yang menyebabkan jumlah folikel pada ovarium terus menurun.
   
Proses rekrutmen tersebut ada yang tidak berada di bawah pengaruh hormon (gonadotrophin independent), ada pula yang terkait dengan kadar hormon (gonadotrophin dependent). Proses tersebut akan terus berjalan, tidak peduli apakah seorang wanita menggunakan obat-obat penunda haid, kontrasepsi hormonal, hamil, dan nifas. Hingga suatu saat jumlah sel telur menjadi sedikit dan habis, dan wanita ini akan mengalami menopause.