Obesitas Bisa Merusak Kesehatan dan Penampilan

Info Kesehatan Obesitas seringkali dianggap suatu keadaan sementara yang bisa diatasi selama beberapa bulan dengan menjalani diet yang ketat. Ini adalah anggapan yang keliru. Setiap orang memang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, penyekat panas, penyerap guncangan dan lainnya. Namun dalam jumlah berlebihan, timbunan lemak justru akan merugikan metabolisme tubuh.

Ada tiga cara penghitungan untuk menentukan klasifikasi berat badan Anda. Pertama adalah penghitungan sederhana untuk mengetahui berat badan ideal yaitu tinggi badan dikurangi 100, jumlahnya dikali satu kilogram.


Yang kedua adalah menghitung lingkar pinggang. Batas lingkar pinggang normal untuk wanita
adalah lebih kecil dari 80 cm dan lebih kecil dari 90 cm untuk pria. Spesialis Gizi Klinik
dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK menyatakan lemak yang ada di daerah perut lebih berbahaya
karena akan masuk ke dalam metabolisme tubuh. “Contohnya, jika lemak menutupi hati, fungsi
hati akan terganggu dan lama-lama akan rusak,” ujarnya. 

Yang ketiga adalah penghitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu pengukuran yang membandingkan
berat badan dan tinggi badan. Rumus matematika IMT adalah berat badan (kilogram) dibagi dengan
tinggi badan (meter) pangkat dua. Menurut ukuran yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO)
untuk daerah Asia Pasifik, idealnya orang memiliki IMT antara 18,5 – 22,9.

Bahaya laten yang mengancam
Penumpukan lemak pada penderita obesitas dapat meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit
menahun seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, stroke, jantung, gangguan kardiovaskular,
kanker, gangguan pernapasan, penyakit kantung empedu, gangguan hormonal, serta radang tulang
dan sendi.

Diabetes tipe 2, contohnya, terjadi karena glukosa yang ada di dalam darah tidak dapat masuk ke
dalam sel yang tertutup lemak. Akibatnya, kadar gula dalam darah tinggi. Namun karena sel
tidak mendapat asupan yang semestinya, maka akan timbul rasa lapar. Saat kita kembali makan,
siklus yang sama akan terulang. Hal ini akan terus meningkatkan kadar gula dalam darah yang
pada akhirnya menyebabkan diabetes tipe 2.

Sementara itu, komplikasi obesitas yang paling sering dikeluhkan adalah radang tulang dan
sendi. Obesitas dapat menyebabkan berbagai masalah ortopedik seperti nyeri punggung bawah dan
memperburuk osteoartritis, terutama di sendi lutut dan pergelangan kaki. Hal ini diakibatkan
trauma mekanis pada persendian akibat kelebihan berat badan.

Obesitas juga dapat menimbulkan gangguan pernafasan karena penimbunan lemak yang berlebihan
di bawah diafragma dan di dalam dinding dada menekan paru-paru. Hal ini dapat menimbulkan
kesulitan bernapas meski penderita hanya melakukan aktivitas ringan. Gangguan pernapasan ini
juga dapat terjadi saat tidur sehingga menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara
waktu (apnea).

Menderita obesitas juga dapat meningkatkan resiko kerusakan otak Anda. Seiring dengan
bertambahnya usia, otak Anda akan mengalami penyusutan (atrofi). Namun menderita obesitas
ternyata dapat mempercepat prosesnya. Hal ini tentu saja berita buruk karena atrofi otak
disebut-sebut sebagai salah satu penyebab demesia.

Sebuah penelitian atas 6.500 orang yang dilakukan di California Utara, Amerika Serikat
membuktikan bahwa orang yang kelebihan berat badan di daerah perut di usia 40-an lebih
beresiko penyakit demensia di usia 70-an. Apa yang menyebabkan proses penyusutan otak lebih
cepat pada penderita obesitas belum diketahui secara pasti. Namun, obesitas diketahui
menyebabkan berbagai penyakit salah satunya tidur apnea yang menyebabkan pasokan oksigen ke
otak terhenti selama beberapa detik. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak. Jaringan lemak
juga mengakibatkan masalah. Sel lemak mengeluarkan hormon leptin yang diperkirakan berperan
dalam perkembangan Alzheimer.