Penyebab Tidak Berhenti Makan

info kesehatan Orang yang mengidap Binge Eating Disorder (BED) selalu berjuang melawan rasa bersalah dan depresi. Mereka merasa cemas bahwa perilaku makan mereka akan berakhir dengan kegemukan, bahkan obesitas. Akibatnya, ia bagai terjebak dalam lingkaran setan: menyantap makanan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa nyaman, kemudian merasa diri buruk, lalu kembali pada makanan untuk mengikis perasaan itu.

Banyak faktor penyebab munculnya gangguan perilaku makan ini, yang merupakan kombinasi antara gen (faktor biologis), pengalaman (lingkungan), dan emosi (psikologis). Faktor biologis berasal dari adanya ketidaknormalan pada fungsi kerja hipotalamus –bagian otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Hipotalamus mungkin saja tidak mengirimkan pesan secara tepat tentang lapar dan kenyang. Abnormalitas pada hipotalamus ini berperan dalam produksi serotonin. Rendahnya kadar serotonin –salah satu zat kimiawi otak– memegang peran penting dalam mengatur nafsu makan dan suasana hati. Ketidakseimbangan serotonin inilah yang memunculkan kecemasan, migrain, mual, dan nafsu makan yang berlebihan.

Faktor kedua adalah sosial dan budaya.  “Terutama di Indonesia, umumnya orang tua menganggap anak gemuk itu bagus, simbol keberhasilan orang tua merawat anak. Padahal cara pemberian makan itu akan membentuk kebiasaan makan pada anak,” tutur psikolog Rosdiana Setyaningrum. Sewaktu kecil anak-anak kerap dituntut makan banyak supaya gemuk. Tetapi, setelah mereka remaja dan gemuk, mereka dipaksa untuk mengurangi makan. “Perempuan disuruh menjadi langsing demi kecantikan, sementara laki-laki disuruh  mengurangi makan demi kesehatan. Padahal mengurangi porsi makan tidaklah semudah membalik telapak tangan,” tandas Rosdiana.

“Akibat tekanan dari lingkungan pergaulan, remaja yang kegemukan dan obesitas kerap melakukan diet gila-gilaan. Tapi biasanya tidak berhasil, karena bagaikan lingkaran setan, semakin mereka mencemaskan bentuk tubuh, semakin mereka akan makan terus untuk mendapatkan ketenangan. Pola ini akan berlanjut sampai dewasa,” ungkap Rosdiana.
   
Faktor lainnya yang memicu BED adalah  budaya memberi hadiah berupa makanan pada anak, atau memberikan makanan sebagai alat untuk membuat anak berhenti rewel. “Orang tua yang mengatasi kecemasannya dengan cara makan biasanya akan menularkan kebiasaan ini pada anaknya, dan si anak akan meniru.”
   
Faktor ketiga, adalah faktor psikologis. Orang yang mudah cemas dan stres, apalagi bila ditambah dengan anggapan bahwa penampilan itu penting, riskan mengalami BED. “Orang yang mudah cemas dan stres tidak punya kemampuan mengontrol diri terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya,” Rosdiana menambahkan. Mereka juga sangat dikendalikan oleh emosi. Bagi mereka, makanan sifatnya emosional, karena berkaitan dengan kesukaan, dan makan merupakan cara untuk mengatasi stres.

Selain mudah cemas dan stres, depresi juga erat kaitannya dengan kasus BED. Banyak orang pengidap binge mengalami depresi,  bermasalah dengan pengendalian diri, serta tidak mampu mengelola dan mengekspresikan perasaannya. Pada mereka juga ditemukan adanya perasaan kesepian, kurang harga diri, serta senantiasa merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.