Saat Gairah Seksual Mulai Menurun

info kesehatan Menurut dr. Agus Surur Asadi, SpOG(K), seksualitas wanita mengalami perubahan di masa perimenopause akibat berkurangnya produksi hormon estrogen. Pasalnya, hormon ini bertugas merawat jaringan, termasuk pada organ seks. Jika kadar estrogen berkurang, jaringan pada organ seks menjadi rentan terhadap masalah.

Ada dua perubahan seksual yang penting saat wanita memasuki masa perimenopause. Selain produksi cairan untuk lubrikasi vagina semakin berkurang, elastisitas dan ketebalan epitel genitalia pun menurun. Dalam kondisi ini wanita bisa jadi sulit terangsang dan kurang sensitif pada sentuhan. Dan, karena lubrikasi tak cukup, organ intim pun kering, sehingga jika terjadi penetrasi seksual seringkali menimbulkan rasa nyeri. Belum lagi munculnya hot flush dan night sweat yang menganggu tidur. Gangguan-gangguan akibat berkurangnya hormon estrogen ini secara langsung maupun tidak akan memengaruhi minat dan aktivitas seksual wanita.

Selain estrogen, hormon lain yang juga berperan penting adalah testosteron. Hormon ini –kerap dianggap hormonnya pria- bertanggung jawab atas timbulnya gairah seksual, baik pria maupun wanita. Namun di usia 40-an, wanita kehilangan setengah dari hormon tersebut, sehingga minat pada urusan seksual pun menurun.

Hormon testosteron dapat disubstitusi lewat terapi hormon. Namun tidak semua orang suka karena efek sampingnya antara lain tumbuh rambut tipis di wajah, suara lebih berat, serta membesarnya klitoris. Penambahan hormon ini juga dapat meningkatkan kolesterol LDL yang berarti mempertinggi risiko penyakit jantung dan stroke.

Sebenarnya hormon bukan satu-satunya ‘kambing hitam’ penyebab menurunnya gairah seks pada wanita. Seiring bertambahnya usia, organ-organ di dalam tubuh pun ikut menua. Misalnya otot dasar panggul melemah, terutama pada wanita yang melahirkan secara normal lebih dari satu kali. Akibatnya otot yang mengontrol keluarnya urin ikut melemah sehingga timbul inkontinensia (sering buang air kecil). Anda tentu tak nyaman melakukan aktivitas seksual jika sering ingin ke kamar kecil.

Selain organ yang menua, di usia 40-an pun Anda mungkin mengonsumsi obat-obatan. Sementara obat-obatan tertentu berdampak pada turunnya gairah seksual. Contohnya golongan beta blocker, yaitu obat untuk gangguan jantung dan obat antidepresi

Pria juga berubah
Seperti pada wanita, hormon pria juga mengalami perubahan. Pada usia relatif muda, pria dapat mengalami ereksi beberapa detik setelah dirangsang secara fisik maupun mental. Namun seiring pertambahan usia, faktor penghambat testosteron pria meningkat sehingga frekuensi ereksinya pun menurun. Pria berusia 50 tahun lebih biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi. Bahkan sebagian pria tidak dapat mempertahankan ereksinya (ejakulasi dini). Terapi sulih hormon bisa saja dilakukan, Namun hasilnya tidak seefektif terapi hormon pada wanita.