Buah Tomat Yang Sehat

Info KesehatanDitilik dari sejarahnya, tomat sebenarnya termasuk tanaman yang ‘kurang beruntung’. Setelah dibawa dari Peru ke Eropa dan Asia oleh para pelaut Spanyol pada abad ke-16, selama berpuluh tahun kemudian, tomat hanya dipakai sebagai tanaman hias, karena diangggap beracun. Memang, daun dan batang tanaman tomat mengandung zat glikoalkaloid yang beracun. Namun sebenarnya buahnya tidak beracun, yang saat itu tidak diketahui.

Para petani kemudian mulai mengonsumsi tomat. Itu pun sebagai makanan darurat di saat musim paceklik, saat bahan makanan lain tidak ada. Di Eropa, makanan yang menggunakan tomat baru ada mulai pertengahan abad ke-18, sementara di Amerika tomat baru digunakan di awal abad ke-19.

Buah atau sayur?

Tomat sebenarnya digolongkan sebagai buah. Namun dari perspektif kuliner, tomat termasuk sayuran, karena dianggap tidak semanis bahan pangan lain yang disebut ‘buah’. Juga karena tomat umumnya disajikan sebagai bagian dari makanan utama, tidak seperti buah yang disajikan terpisah sebagai dessert.

Perdebatan buah versus sayur ini pernah menimbulkan masalah hukum di Amerika Serikat, Australia,dan Cina. Tahun 1883, AS memberlakukan pajak pada sayuran, namun tidak pada buah. Nah, status tomat pun diperdebatkan, sampai akhirnya tahun 1893 Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa tomat adalah sayuran. Meski keputusan ini hanya berkaitan dengan masalah pemberlakuan pajak, Departemen Pertanian AS sendiri hingga kini menggolongkan tomat sebagai sayuran.

Kaya zat anti-kanker

Warna tomat tak hanya merah atau hijau, ada juga yang oranye, kuning, pink, ungu, dan putih. Bahkan ada tomat belang-belang dengan warna garis berbeda. Besar tomat juga beragam, dari yang berdiameter hanya 1 cm seperti tomat cherry, hingga 10 cm, seperti tomat steak. Tomat plum yang sering dijual sebagai tomat kalengan, bentuknya memanjang dengan panjang 7-9 cm dan diameter 4-5 cm.

Meski kandungan utama tomat 95 persen adalah air, tomat juga kaya akan lycopene, pigmen alami pembentuk warna merah pada tomat, yang merupakan antioksidan paling kuat dari keluarga pigmen karotenoid. Dari penelitian Harvard University diketahui, pria yang mengonsumsi sekurangnya dua porsi tomat per minggu akan punya risiko 24-36 persen lebih rendah untuk terkena kanker prostat daripada yang hanya mengonsumsi 1/2 porsi. Lycopene juga mengurangi risiko kanker paru-paru, kanker payudara, kanker lambung, penyakit jantung, serta osteoporosis.

Dengan memasak tomat menggunakan sedikit minyak, lycopene yang dilepaskan dari tomat akan lebih banyak dan lebih mudah diserap tubuh. Namun menurut  Dr. Joseph Levy dari Ben-Gurion University-Israel, manfaat ini tidak akan diperoleh jika kita hanya minum suplemen lycopene, “Sebab lycopene hanya akan efektif jika bekerja bersama unsur lain dalam tomat.”


Petik sekarang, matang nanti

Tomat biasanya dipetik ketika belum masak benar dan dimatangkan dalam penyimpanan menggunakan gas etilen (karbit). Cara ini membuat tomat segar lebih lama, namun citarasanya kurang manis, lebih berdaging, serta berwarna merah muda atau oranye. Jika masak di pohon, warnanya merah penuh, lebih berair, citarasanya pun lebih 'terasa'.

Sebaiknya tomat yang belum masak tidak disimpan di dalam kulkas, karena suhu dingin dapat mematikan proses pemasakan dan merusak citarasanya. Tomat yang masak di pohon boleh disimpan di dalam kulkas, namun tetap lebih baik jika disimpan pada suhu ruang. Menyimpan tomat bersama pisang juga akan membuat keduanya cepat matang.

Tomat segar tidak perlu dikupas, kecuali jika akan dimasak. Untuk mengupasnya, masukkan tomat ke dalam mangkuk berisi air mendidih selama 30 detik. Pindahkan ke dalam air dingin, maka kulit tomat akan mengelupas. Potong tomat memakai pisau yang bergerigi dengan arah memanjang, bukan dipotong silang, agar cairan buahnya tidak tumpah.