Cara Mendeteksi Kanker Ovarium

Info Kesehatan Satu lagi kanker yang menjadi 'momok' wanita. Penyakit ini disebut juga silent killer karena pada awalnya tidak menunjukkan gejala dan baru menimbulkan keluhan bila sudah terjadi penyebaran. Karena tidak merasakan adanya keluhan, banyak pasien yang datang pada stadium lanjut.
  
Kanker ovarium atau indung telur terjadi akibat
pertumbuhan sel-sel yang tidak normal pada satu atau dua indung telur (organ reproduksi wanita yang menghasilkan telur/ovum serta hormon estrogen dan progesteron). Kanker ini bisa terjadi pada jaringan sel germinal (memproduksi ovum), sel stromal (menghasilkan estrogen dan progesteron) atau sel epitel (sel pembungkus indung telur). Namun kanker awalnya biasa tumbuh pada jaringan sel epitel.

Siapa bisa terkena?
Wanita yang berisiko mengidap kanker ovarium adalah yang haidnya lebih awal dari 12 tahun dan menopausenya lebih dari usia 50 tahun (siklus haidnya lama), tidak pernah atau sulit hamil, memiliki ibu atau saudara perempuan yang menderita kanker ovarium.
  
Sebagian besar kanker ini berawal dari kista. Karena itu, kista yang muncul harus diperiksa untuk menentukan sifatnya (jinak atau ganas). Kista perlu dicurigai antara lain bila cepat membesar, muncul pada usia remaja, atau pasca-menopause, kista berdinding tebal, dan kista memiliki bagian padat.

Gejalanya?

Kanker ovarium pada awalnya tidak menimbulkan gejala spesifik. Jika tumor sudah menekan kandung kemih, mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama. Pada stadium lanjut, terjadi penimbunan cairan dalam rongga perut, penyebaran cairan ke lemak perut dan organ-organ dalam rongga perut lainnya seperti usus dan hati. Akibatnya, perut membuncit, kembung, mual, nafsu makan terganggu, buang air besar dan kecil juga terganggu. Cairan juga bisa menumpuk pada rongga dada sehingga penderita merasa sesak napas.

Mencegahnya?
Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pemeriksaan USG transvaginal. Namun, USG belum bisa mendeteksi penyebaran sel tumor. Karena itu pada pemeriksaan rutin pap smear, dokter atau bidan selalu melakukan pemeriksaan bagian dalam untuk melihat ada tidaknya benjolan atau kista. Jika terasa benjolan, pasien dianjurkan melakukan USG transvaginal untuk memastikannya. Pemeriksaan penunjang lain adalah dengan CT-scan, MRI, atau pemeriksaan laboratorium.