Cara Menghindari Obat Palsu

Info Kesehatan Dr. Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, pernah menemukan satu ampul obat suntik Cardiogenic Shock yang hanya berisi protein. “Itu kan, obat untuk gangguan jantung yang harus diberikan segera, yaitu untuk menstabilkan detak jantung pasien. Kalau obat yang diberikan palsu, tidak akan mengobati, bahkan pasien bisa meninggal,” ceritanya kepada Pesona.

Jadi, bagaimana kita sebagai konsumen menyikapi hal ini?
Jeli sebelum membeli

Meskipun sulit membedakan obat palsu dengan yang asli, ada beberapa kiat agar Anda terhindar dari pembelian obat palsu. Pertama, belilah obat di apotek ternama, khususnya untuk jenis obat keras, bahkan juga obat bebas atau obat bebas terbatas. Obat yang dijual di apotek lebih terjamin keasliannya. Pemalsu obat biasanya menggunakan jalur ilegal di luar apotek.
   
Anda pun sebaiknya tidak tergiur pada harga yang miring. Selain itu, sebaiknya Anda jeli memperhatikan kemasan obat. Menurut Badan POM, pada kemasan harus tercantum logo tanda golongan obat. Jika tanda tersebut tidak ada, bisa dipastikan obat tersebut palsu.
   
Ada tiga golongan obat. Pertama obat keras dengan logo huruf K yang dikelilingi lingkaran merah dengan garis tepi hitam. Kedua obat bebas terbatas yang ditandai lingkaran warna biru dengan garis tepi hitam. Ketiga, obat bebas dengan logo warna hijau dengan garis tepi warna hitam. 
   
Pada kemasan obat juga harus tercantum nomor registrasi. Nomor registrasi ini biasanya tercetak dengan huruf sangat kecil, sehingga mungkin Anda agak sulit menemukannya. Selain itu cari juga tanggal kadaluwarsa. Selain untuk menghindari obat palsu, tanggal kadaluwarsa  untuk menghindari obat yang sudah tidak layak konsumsi.
   
Tip lain dari Pusat Informasi Obat Nasional (PIO Nas) adalah (lagi-lagi) memperhatikan kemasan obat. Sebab, tidak semua pemalsu obat menggunakan alat canggih dalam membuat kemasan. Jika mata kita awas, mungkin bisa menemukan 'kejanggalan', seperti cetakan huruf yang kurang baik atau segel yang tidak rapi.
   
Jika Anda tidak yakin dengan obat yang akan Anda beli, bisa menghubungi PIO Nas untuk memastikan obat  itu asli atau palsu, di nomor (021)4259945, atau email: informasi@pom.go.id.

Sulit dibedakan

Obat palsu dan obat asli sangat sulit dibedakan. Pada kebanyakan kasus, obat palsu hanya bisa dideteksi melalui uji laboratorium. Sementara Badan POM memiliki dana terbatas untuk melakukan sampling obat-obatan. Menurut Husniah Rubiana Thamrin Akib, Kepala Badan POM, seperti dikutip dari Kontan, dana tahunan Badan POM hanya Rp 440 miliar. Dana itu idealnya Rp 1,5 triliun agar mereka bisa melakukan sampling obat secara teratur serta menambah alat laboratorium untuk uji  obat dan makanan.

Tapi menurut dr. Marius, kunci pengendalian obat palsu bukan pada uji sampling obat. Pengendalian harga obat lebih penting. “Menteri Kesehatan seharusnya memberikan batas maksimal harga obat bermerek. Di sini kan, bisa 20-200 kali harga obat generik. Sedangkan di Malaysia dan Singapura misalnya, sudah menerapkan harga obat bermerek 1,2-2 kali saja dari obat generik,” lanjutnya.
   
Harga obat yang mahal yang menyebabkan para pemalsu berani memasang harga miring, yaitu 'hanya' 10-11 kali harga obat generik. Sehingga banyak orang terjebak. Hal itu juga yang membuat penyelundupan obat juga marak di Indonesia. Sejenis obat yang di luar negeri hanya seharga Rp 10 ribu, di Indonesia bisa berharga Rp 100 ribu bahkan lebih.