Cara Menikmati Makanan

Info Kesehatan  Alih-alih praktis dan efisien, banyak orang makan dengan cara multitasking. Sambil baca koran, nonton teve, atau mengecek email di ponsel. Selama ini kita mungkin menganggap kegiatan makan sebagai sesuatu yang otomatis. Bukan sebagai aktivitas yang perlu diperhatikan dan dinikmati. Hal ini, menurut Reza Gunawan, disebabkan karena kita menjalani hidup secara otomatis. "Tubuh, perhatian, dan napas kita sering tidak berada dalam satu kesatuan waktu. Ini yang disebut forgetfulness," jelas praktisi penyembuhan holistik dari True Nature Healing ini. Bahkan, bernapas pun kita melakukannya tanpa sadar.


Secara teori, naluri, dan ajaran orang tua, kita tahu bahwa kita akan makan di saat merasa lapar. Kita tahu makan tidak boleh berlebihan, tidak boleh sembarangan, harus yang bergizi, dan sebagainya. Padahal pada praktiknya, sering kali tanpa sadar kita justru melakukan hal sebaliknya. Kita makan bukan karena lapar, tetapi karena sedang stres, kesepian, bad mood, dan lainnya. Kita mungkin memilih makanan yang 'enak di pandang dan lezat di mulu' atau asal perut kenyang. Bukan makanan yang dibutuhkan tubuh.

Sayangnya, kita baru mulai sadar ketika berbagai masalah muncul. Ketika merasa gerak tubuh menjadi lamban, badan menjadi 'melar' dengan lemak di sana-sini, atau kadar gula dan kolesterol melonjak. Dan ketika ini terjadi, kita pun panik, lalu melakukan diet superketat. Tetapi menjadi lebih stres ketika berat tubuh tak kunjung turun.


Michelle May, MD, dokter dari Amerika Serikat dan penulis buku Eat What You Love, Love What You Eat, menjelaskan bahwa diet justru menyebabkan orang memiliki pola pikir dan kebiasaan yang negatif terhadap makan dan makanan. Setiap kali mau menyuap makanan, di kepala kita sibuk menghitung berapa banyak kalori yang akan masuk, dan merasa sangat bersalah ketika suatu kali kita tak sanggup menahan godaan menyantap makanan yang 'terlarang', seperti cokelat, es krim, pizza. Padahal itu semua makanan favorit kita sejak kecil. Akhirnya makan bukan lagi sesuatu yang menyenangkan. Bahkan pada orang-orang tertentu, kondisi ini bisa menjadi tak terkendali dan ekstrem, menjadi sebuah gangguan perilaku yang serius. Sebut saja pengidap bulimia yang sengaja memuntahkan kembali semua makanan yang mereka makan, atau penderita anoreksia yang 'takut' terhadap makanan karena takut gemuk.

Menurut Reza, tubuh sesungguhnya memiliki sistem penyeimbang tersendiri. Saat kita kekurangan makan, tubuh kehilangan berat. Saat terlalu banyak makan, berat tubuh pun meningkat. Selama ini banyak orang mengira bahwa untuk menjaga berat badan seimbang, kita harus diet alias membatasi makan dan berpantang makanan tertentu. Padahal, kata Reza, kalau kita mau melakukan (profesi) makan dengan cara yang benar, kita tidak perlu memusingkan efek makanan tersebut.

Mungkin selama ini kita terbiasa makan tanpa sadar atau cenderung otomatis. Atau menganggap bahwa kita harus makan pada jam-jam tertentu. "Siapa bilang kita harus makan siang pukul 12 dan makan malam pukul 6 sore? Untuk urusan makan, bukan waktu yang menjadi patokan, tetapi tubuh kita. Hanya saja, tidak banyak orang yang peka menangkap sinyal 'lapar' dari tubuh kita," tutur Sony Jethnani, Life Coach dan guru meditasi dari Brahma Kumaris. Setiap orang memiliki metabolisme tubuh yang berbeda, sehingga waktu lapar mereka pun berbeda. Ada orang yang hanya butuh makan 'berat' sekali sehari, ada yang harus makan lebih sering karena punya masalah asam lambung. Atau, ada yang makan larut malam karena mereka memang pekerja malam. "Jadi kegiatan makan itu sangat peronal sifatnya," tambah wanita berdarah India ini.
Tetapi, bisakah kita mengubah pola makan yang terlanjur mendarah daging sejak kita masih kanak-kanak? Jawabnya: bisa. Caranya dengan mengubah pola berpikir kita tentang makan dan makanan. Inilah yang dilakukan lewat 'mindful eating'. Melakukan mindful eating perlu didasari oleh mindful meditation. Artinya, kita makan dengan menghadirkan segenap kesadaran -pikiran, perasaan, dan perhatian kita. Karena itu, Reza menyebutnya sebagai 'meditasi makan'. Untuk mencobanya, ikuti beberapa langkah berikut ini:

1. Tenangkan pikiran. Carilah tempat yang paling nyaman untuk makan.

2. Singkirkan segala pengalih perhatian, mulai dari ponsel, majalah, televisi, atau apa pun yang bisa mengganggu perhatian Anda dari makanan.

3. Berdoa dan bersyukur atas apa yang tersaji di piring Anda saat itu.

4. Perhatikan makanan yang ada di hadapan Anda. Lihat teksturnya, hirup aromanya, sentuh makanannya (jika memang bisa dipegang), gigit perlahan, bayangkan asal-usulnya, dan kecaplah rasa yang ada di makanan itu, sehingga Anda bisa mengetahui rasa apa saja yang ada pada satu gigitan.

5. Nikmati makanan tersebut di setiap kunyahannya dengan keenam indera kita (indera ke-enam menurut Reza adalah kesadaran untuk merasakan sensasi yang dihasilkan 5 indera). Akhiri dengan doa tanda rasa syukur karena dapat menikmati makanan tersebut.


Jika Anda ingin memulai latihan, pilih salah satu jam makan selama sebulan penuh, lalu pada bulan kedua mulai lakukan di setiap kali Anda akan makan. Saat makan bersama orang lain, lakukan mindful eating saat akan menyuap, selesaikan gigitan dan kunyahan satu per satu, barulah bicara dengan orang di sebelah Anda. "Untuk mempermudah, gunakan piring dan sendok kecil agar kita mengambil makanan yang lebih sedikit," Sony menyarankan.

Memang sekilas mudah. Tapi kalau sebelumnya Anda termasuk orang yang serba cepat atau hobi multitasking, awalnya mungkin akan terasa agak aneh. Atau bisa jadi orang di sekitar Anda yang menganggapnya aneh. Tetapi kita tak perlu memusingkan pendapat orang lain. "Teruslah berlatih minimal 21 hari, maka Anda akan menjadikan mindful eating ini sebagai kebiasaan baru," ujar Sony.

Sebagai bonus, Reza menambahkan, sebagian orang yang mencoba latihan mindful eating ini, berhasil menurunkan beberapa kilogram berat badannya.