Waspada Makanan Kadaluarsa

Info Kesehatan Makanan atau minuman dalam kemasan bisa dikata telah menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga masa kini. Setiap kali kita berbelanja bulanan di pasar swalayan misalnya, makanan dan minuman dalam kemasan umumnya memenuhi troli belanja kita. Dari mi instan, biskuit, sirup, susu, sampai makanan olahan lain, seperti sosis, sarden, kornet, dan sebagainya.

Namun seringkali kita mengabaikan informasi penting pada label kemasan produk, terutama tanggal kedaluwarsa dan kandungan gizi atau kalori.


Tanggal kedaluwarsa
adalah informasi penting pada kemasan. Dengan adanya tanggal tersebut, kita akan tahu makanan tersebut masih layak dikonsumsi atau tidak. Banyak kasus orang keracunan karena makanan kemasan yang dikonsumsi telah melewati tanggal kedaluwarsa. (Makanan dan minuman yang kedaluwarsa termasuk dalam kelompok pangan tercemar menurut Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan). Umumnya tanggal kedaluwarsa tertera di bagian bawah atau atas kemasan bersama tanggal produksi.

Informasi kedua yang tidak boleh dilewatkan adalah nilai gizi (nutrition facts). Daftar nilai gizi dalam bentuk tabel sering terlewat, karena selain hurufnya relatif kecil, dan banyak konsumen yang tidak mengerti arti dari info tersebut. Untuk jelasnya, simak informasi nilai gizi berikut ini:

Takaran saji (serving size)

 
Yaitu total berat produk dan berapa kali bisa dikonsumsi. Misalnya sebuah produk susu dengan berat bersih 250 gram, bila tertulis takaran saji 7, berarti susu seberat 250 gram tersebut direkomendasikan untuk 7 gelas, dan setiap gelasnya berisi 35 gram susu.

Energi total (calories) dan energi dari lemak (calories from fat)

Misalnya dalam kemasan susu tinggi kalsium tertulis energi total 150 kilokalori dan energi dari lemak 30 kilokalori, berarti energi dari lemaknya sebesar 20%. Batasi makanan dengan kalori terlalu tinggi, karena bisa menyebabkan kegemukan. Hindari juga energi lemak yang terlalu tinggi.

American Diabetes Association merekomendasikan asupan energi dari lemak per hari tidak boleh lebih dari 30%. Lebih dari itu bisa memicu penyakit kardiovaskular, obesitas, dan diabetes.

Total lemak, kolesterol, dan garam (sodium/natrium)

Ketiganya adalah zat gizi yang tidak bersahabat bagi tubuh. Maka pilih produk yang kandungan ketiganya relatif rendah (di bawah 5%). Mi dan keju adalah contoh makanan yang sebaiknya dibatasi karena kandungan ketiganya cukup tingggi.

Sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, kolesterol, dan garam, dapat memicu penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi, jantung, dan kanker.

Vitamin, kalsium, dan zat besi
Sebaiknya pilih produk dengan kandungan tinggi (di atas 5%) karena ketiga zat tersebut sangat dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan stamina dan mencegah penyakit. Kalsium khususnya bisa mencegah risiko osteoporosis. Pada produk susu misalnya, mengandung vitamin B hingga 60%, vitamin C hingga 25%, dan vitamin D hingga 50%. Bahkan susu tinggi kalsium bisa memberikan kecukupan kalsium hingga 70%.

Selain tanggal kedaluwarsa dan kandungan gizi, masih banyak informasi yang didapat dari label makanan. Di bawah kandungan zat biasanya terdapat catatan kaki yang berisi keterangan, seperti AKG (angka kecukupan gizi) yang biasanya tertulis 2000 kal. Angka ini mengacu pada kebutuhan kalori manusia yang berkisar 2000 kalori, meskipun kebutuhan setiap orang berbeda.

AKG mengacu pada persentase per takaran saji. Misalnya natrium 10%, berarti setiap takaran sajinya mengandung natrium 10% dari total kebutuhan natrium per hari. Ada dua takaran penting yang perlu diingat. Bila angkanya kurang atau sama dengan 5%, berarti termasuk rendah. Bila angkanya lebih dari 20%, berarti angkanya tinggi.

Selain itu, jangan terjebak dengan lata 'bebas' (free) , seperti bebas gula, bebas kalori, dan bebas garam. Hal itu bukan berarti produk tidak mengandung gula, garam, atau kalori sama sekali. Bebas garam dan kalori, berarti dalam produk tersebut masih terdapat kandungan garam atau kalori dalam jumlah kecil, kurang dari 5 kilokalori atau 5 miligram per takaran saji. Sementara bebas gula, artinya kandungan gula kurang dari 0,5 miligram per takaran saji.

Menyimpan

Pada label makanan dan minuman kemasan, perhatikan juga petunjuk cara penyimpanan. Petunjuk ini sering diabaikan, karena banyak orang menganggap semua makanan bisa disimpan di dalam kulkas. Padahal, makanan atau minuman kemasan yang dipajang atau disimpan pada rak di suhu ruang, maka produk tersebut dapat disimpan di dalam lemari makan. Kecuali minuman dalam kemasan diinginkan untuk diminum dingin, dapat disimpan di dalam kulkas. Sedangkan untuk makanan dan minuman yang dijual di dalam rak berpendingin, sebaiknya setelah sampai di rumah disimpan di dalam kulkas.