Hati hati Makan Berlebihan

Info Kesehatan Orang yang mengidap binge eating disorder (BED) selalu berjuang melawan rasa bersalah dan depresi. Mereka merasa cemas bahwa perilaku makan mereka akan berakhir dengan kegemukan, bahkan obesitas. Akibatnya, ia bagai terjebak dalam bagai lingkaran setan: menyantap makanan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa nyaman, kemudian merasa diri buruk, lalu kembali pada makanan untuk mengikis perasaan itu.

Jenis gangguan perilaku makan ini umumnya dimulai di awal masa dewasa atau akhir masa remaja. Saat mulai terjadi, episode binge akan berlangsung selama dua jam, tapi pada beberapa orang bisa berlangsung seharian. BED memiliki dua gejala, yakni gejala
yang muncul dalam perilaku dan gejala emosional yang tidak tampak. Pengidap BED dapat ditandai dari perilaku makannya, yaitu  tidak dapat menghentikan dorongan yang sangat kuat untuk makan, serta tidak dapat mengendalikan apa dan berapa banyak yang dimakan.

Gejala perilaku lainnya adalah makan dalam waktu sangat cepat, makan dalam keadaan tidak lapar atau masih kenyang, dan kerap menyembunyikan  makanan untuk dimakan diam-diam. Saat makan bersama orang lain, pengidap binge bisa jadi tampak normal. Mereka makan dalam porsi wajar atau malah kadang sedikit. Namun ketidaknormalannya akan muncul ketika dia makan sendiri. Gejala lainnya adalah makan sepanjang hari, terus-menerus, sehingga tidak ada waktu khusus baginya untuk makan pagi, makan siang, dan makan malam.

Siapa yang lebih  banyak mengalami gangguan perilaku makan ini? “Pria dan wanita sama-sama rentan mengidap BED,” ujar Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, psikolog di RS Pluit. “Belum ada penelitian apakah wanita lebih banyak jumlahnya. Ini sebetulnya berkaitan dengan budaya. Wanita lebih dituntut untuk tampil cantik dan langsing, sehingga jumlah pengidap BED wanita  jadi kelihatan lebih banyak,” papar Rosdiana.

Tara de Thouars, BA, MPsi, psikolog dari Shape Up Indonesia –sebuah klinik yang menyediakan jasa kesehatan untuk masalah kesehatan akibat pola hidup yang tidak sehat– mengatakan bahwa individu yang rentan BED adalah individu yang impulsif, kontrol diri rendah, dan memiliki pemikiran obsesif terhadap makanan. “Gejalanya mudah dikenali, yaitu meningkatnya berat badan dan berfluktuasi, moody, kerap menyembunyikan makanan, dan merasa tidak puas dengan bentuk tubuh,” katanya.
   
“Individu yang memiliki low self esteem atau kurang percaya diri atau penerimaan diri yang negatif umumnya mudah mengalami BED. Rasa tidak percaya diri ini lantas mereka atasi dengan makan, karena makan menimbulkan perasaan nyaman,” Rosdiana menjelaskan lebih lanjut. Secara emosional, pengidap BED selalu merasa tertekan, yang hanya bisa diatasi dengan makan. Parahnya, pengidap BED kerap tidak sadar berapa banyaknya makanan yang telah ia santap, tidak pernah merasa puas,  serta selalu merasa bersalah dan tertekan setelah makan terlalu banyak. Akibatnya, pengidap BED merasa tak berdaya untuk mengendalikan berat badan dan kebiasaan makannya.