Kenapa Wanita Mengalami Hot Flushes???

info kesehatan Hot flushes adalah gejala yang umum dirasakan oleh wanita  di masa perimenopause atau setelah memasuki masa menopause. Gejalanya berupa rasa panas di dalam tubuh, diikuti dengan keluarnya keringat, serta jantung yang berdebar-debar. Sensasi panas itu biasanya berawal di dalam dada, terkadang juga pada wajah dan leher, kemudian menjalar ke seluruh tubuh. 
   
Tapi, jangan khawatir, serangan panas ini terjadi karena perubahan hormonal. Saat kadar estrogen berkurang, berpengaruh langsung pada hypothalamus— bagian dari otak yang berfungsi untuk mengatur nafsu makan, siklus tidur, hormon seksual, serta mengatur suhu tubuh (seperti thermostat). Rupanya, hypothalamus menginterpretasikan berkurangnya estrogen sebagai perintah untuk menaikkan suhu  tubuh.
   
Bagian otak yang lain kemudian  merespon peringatan tersebut, dan menyebarkannya ke bagian-bagian tubuh, seperti hati, pembuluh darah, dan sistem saraf, agar menyeimbangkan panas tersebut. Pesan ini ditransmisikan langsung oleh epinefrin, senyawa kimia di dalam sistem saraf, serta senyawa-senyawa lain yang berhubungan, seperti norepinefrin, prostaglandin, serotonin. Hasilnya, jantung pun berpacu lebih cepat dan pembuluh darah di bawah kulit membesar untuk menyalurkan darah lebih banyak guna mengurangi panas. Begitu juga dengan kelenjar keringat yang lantas mengeluarkan keringat untuk membantu penurunan panas tubuh.
   
Sebenarnya itu merupakan mekanisme tubuh yang biasa untuk mempertahankan diri terhadap panas yang berlebihan dari luar tubuh, seperti cuaca yang panas atau udara lembap. Namun jika proses tersebut dipicu dari dalam, seperti penurunan kadar estrogen, maka perintah dari otak yang membingungkan tersebut dapat membuat tubuh menjadi tidak nyaman. Misalnya, di tengah ruangan yang berpendingin, atau saat sedang tidur lelap, tahu-tahu Anda diserang rasa panas dan berkeringat banyak. Pada sejumlah wanita, peningkatan panas tubuh bisa  mencapai 6ยบ Celsius.

Anda tak sendirian

Hot flushes dialami sebagian besar wanita saat akan memasuki masa menopause. Gejala ini umumnya berlangsung sejak dua hingga tiga tahun sebelum benar-benar memasuki masa menopause, plus beberapa tahun sesudahnya (karena perubahan hormon masih terjadi). Setelah itu, frekuensinya berkurang dan menghilang, seiring dengan habisnya estrogen di dalam tubuh.
   
Ada dua macam hot flushes yang gejalanya paling sering ditemukan. Pertama, hot flushes standar, yang berlangsung singkat dan mencapai intensitas panas maksimum hanya dalam beberapa detik, bertahan selama 2-3 menit, lalu perlahan-lahan menghilang. Kedua, hot flushes lambat, dengan tingkat intensitas panas yang lebih rendah namun bertahan lama, sekitar 30 menit hingga satu jam.
   
Serangan hot flushes yang umum terjadi berdurasi dari 30 detik hingga 5 menit. Semakin banyak hormon estrogen dalam tubuh yang terkuras, kian parah pula gangguan yang dirasakan. Hot flushes yang parah dapat mempengaruhi berbagai aktivitas. Misalnya, tidur terganggu, sehingga mempengaruhi mood, konsentrasi, serta memicu sejumlah problem fisik lain. Karena hormon estrogen umumnya melemah di malam hari, maka sebagian wanita sering mengalami hot flushes di malam hari.
   
Ada beberapa hal yang memengaruhi durasi, frekuensi, dan intensitas  hot flushes. Sebagian wanita  menjalani periode ini dengan  relatif ringan, smooth, dan nyaris tidak menyiksa. Tapi, sebagian lagi sungguh-sungguh terganggu, misalnya karena hawa panas itu bisa menyerang beberapa kali dalam sehari. Uniknya, ada sebagian wanita yang tak pernah mengalami gangguan ini –Anda harus bersyukur.
   
Menurut dr. Frizar Irmansyah Sp.OG(K), wanita di Indonesia cukup banyak yang tidak mengalami hot flushes parah dibandingkan wanita Eropa dan Amerika. Pasalnya, gaya hidup kita relatif lebih 'sehat', misalnya banyak mengonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen --seperti tempe, tidak terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan kimia, hidup di lingkungan yang tenang, rumah tangga harmonis, dan cukup religius. Namun belakangan ini, hot flushes mulai banyak dialami wanita kita, terutama karena pola hidup tak sehat, seperti obesitas, merokok, dan stres.