Kesehatan : Mitos Olah Raga Lari Terpecahkan


Kesehatan : Mitos Olah Raga Lari  Terpecahkan
Kesehatan - Ladies, sudahkah Anda berolahraga hari ini? Bagi Anda yang tidak sempat untuk pergi ke gym atau tidak bisa membeli peralatan olahraga yang mahal, olahraga lari menjadi alternatif yang paling mudah dan murah. Tapi agar Anda bisa mendapatkan manfaat optimal dari olahraga lari, Anda perlu mengetahui lima mitos tentang olahraga lari ini.

    Mitos Pertama: Pelari Tak Butuh Latihan Memperkuat Otot

Banyak yang menganggap bahwa karena pelari hanya menggerakkan kakinya untuk lari, maka pelari tak butuh latihan lain. Padahal seperti yang dilansir oleh livestrong.com, pelatih profesional Keith McDonald mengatakan bahwa pelari yang lebih sering melakukan latihan memperkuat otot (strength training) memiliki risiko lebih kecil terkena cedera saat olahraga lari. Sejumlah latihan seperti squat dan pushup adalah beberapa latihan yang sangat disarankan untuk dilakukan oleh para pelari.

    Mitos Kedua: Lari Telanjang Kaki Mengurangi Risiko Cedera

Lari tanpa alas kaki tampak menjadi sebuah tren tersendiri karena kepraktisan dan kampanye go green. Tapi masalahnya tidak semua orang bisa lari dengan baik dan butuh bantuan sepatu lari agar bisa terhindar dari cedera saat lari. Belum lagi dengan permukaan jalan yang tidak rata yang malah bisa membuat tubuh dan sendi-sendi tubuh tertekan.

    Mitos Ketiga: Semakin Sering Berlari Akan Semakin Mahir

Kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Hal ini bertujuan untuk menghindari rasa kelelahan atau lesu otot yang berlebihan. Dan jika rasa lelah dan lesu setelah berolahraga lari itu tak segera disokong dengan upaya untuk mengembalikan stamina tubuh, maka dampaknya akan lebih buruk untuk tubuh Anda.

    Mitos Keempat: Kram Otot Disebabkan oleh Dehidrasi
 Memang benar jika tubuh yang terhidrasi dengan baik sangat penting untuk kesehatan dan kemampuan fisik Anda saat lari. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine pada bulan Juni 2012, peneliti membandingkan kadar elektrolit dan hidrasi dari dua kelompok Ironman triathletes: yang pernah mengalami kram dan yang tidak. Peneliti ternyata tak menemukan perbedaan diantara kedua kelompok tersebut dan menyimpulkan bahwa kram terjadi karena peningkatan kecepatan lari, bukan karena dehidrasi atau kehilangan elektrolit.

    Mitos Kelima: Olahraga Lari Hanya untuk Anak Muda dan Prima

    Faktanya siapapun dan dengan usia berapapun bisa melakukan olahraga lari. Hanya saja perlu dicatat bahwa Anda perlu memastikan bahwa Anda tak punya gangguan medis atau cedera yang menghambat olahraga lari Anda. Untuk pemula, sangat disarankan untuk melakukan latihan olahraga lari yang diselingi dengan olahraga jalan kaki.

Anda bisa mulai olahraga lari sekarang juga dan dalam beberapa minggu, Anda bisa meningkatkan kemampuan lari Anda sekaligus kebugaran tubuh Anda. Jika Anda masih belum termotivasi untuk olahraga lari, carilah teman atau rekan yang bisa Anda ajak untuk melakukan olahraga ini bersama-sama.


 Artikel Kesehatan Lainnya